Abu Sayyaf Penggal Sandera Asal Jerman Karena Tak Dapat Tebusan

Abu Sayyaf Penggal Sandera Asal Jerman

Berita Terbaru  – Abu Sayyaf Penggal Sandera Asal Jerman Karena Tak Dapat Tebusan

Kelompok militan Abu Sayyaf kembali memenggal kepala seorang sandera, kali ini asal Jerman. Warga Jerman ini dipenggal karena negaranya tidak memberikan tebusan.

“Meski upaya telah dilakukan pasukan keamanan, tapi kami tidak menyangka mereka (Abu Sayyaf) akan memenggal kepala sandera asal Jerman,” tutur Jesus Dureza, penasihat perdamaian yang juga kepala negosiator sandera Presiden Rodrigo Duterte, seperti dikutip dari Strait Times, Senin (27/2).

Jurgen Kantner (70) dieksekusi sekitar pukul 03.30 dini hari, waktu setempat, berdasarkan rilis laporan kepolisian Filipina. Dia dipenggal di distrik Buanza, Kota Indanan, Provinsi Sulu, 1.500 kilometer dari Manila.

Kantner juga ternyata pernah disandera perompak Somalia selama dua bulan. Di bawah sanderaan Abu Sayyaf, pria 70 tahun itu dipenggal langsung bawahan Muammar Askali, salah satu pemimpin kelompok militan itu.

Meski rilis kepolisian sudah dikeluarkan, Komandan Mindanao Barat Jenderal Carlito Galves dan Kepala Kantor Urusan Publik Militer Kolonel Edgard Arevalo, mengaku belum terima konfirmasi insiden tersebut.

“Pasukan keamanan masih melakukan proses pencarian dan penyelamatan hingga benar ada bukti sandera asal Jerman dipenggal,” serunya.

Baca juga : Identitas Pelaku Peledakan di Cicendo Masih Diselidiki Polisi

Bersama sang istri, Sabine Merz, Kantner diculik militan Abu Sayyaf. Keduanya saat itu memang berlayar di daerah berbahaya yang dikuasai kelompok militan tersebut.

Sabine tewas karena mencoba melawan Abu Sayyaf, sementara Kantner ditawan.

Keduanya juga pernah disandera perompak Somalia pada 2008. Kala itu, mereka dibebaskan karena uang tebusan telah dibayar.

Sumber: https://www.merdeka.com/dunia/tak-dapat-uang-tebusan-abu-sayyaf-penggal-sandera-asal-jerman.html

One thought on “Abu Sayyaf Penggal Sandera Asal Jerman Karena Tak Dapat Tebusan

Comments are closed.